Oleh : M. Syaifudin Al-Azhuri
Orang-orang mengatakan santri
(sebutan murid di pondok pesantren) identik dengan teroris, tetapi kenyataannya
salah besar, yang harus digaris bawahi adalah mereka-mereka yang tak punya akal
sehat dan tak punya pendirian, tetapi teroris yang dimaksud disini adalah makanan
sehari-hari para santri. Mari kita pelajari sedikit tentang santri dan pondok
pesantren!
Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an,
dimana kata “santri” dalam
Bahasa Jawa berarti murid, istilah pondok berasal dari Bahasa Arab (funduuq) yang
berarti penginapan. Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang
dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasaldari kata Cantrik (Bahasa
Jawa atau Bahasa Sansakerta) yang berarti orang yang slalu mengikuti guru, yang
kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa (PTS) dalam sistem asrama yang
disebut Pawiyatan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
pesantren diartikan sebagai asrama, tempat santri, atau temoat murid-murid
belajar mengaji. Sedangkan secara Istilah pesantren adalah Lembaga Pendidikan
Islam, dimana para santri biasanya tinggal di pondok pesantren (asrama) dengan
materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum, bertujuan untuk
menguasai ilmu agama islam secara detail, serta mengamalkannyan sebagai pedoman
hidup keseharian dengan menekankan
pentingnya moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesantren yang hanya mengajarkan
ilmu agama Islam saja, umumnya disebut pesantren Salafi. Pola tradisional yang
diterapkan dalam pesantren Salafi adalah para santri bekerja untuk kyai mereka,
bisa dengan mencakul sawah, mengurusi empang (kolam ikan), dan lain sebagainya.
Dan sebagai balasannya mereka akan diajari ilmu agama oleh kyai mereka.
Sebagian besar pesantren Salafi menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para
santrinya dengan membebankan biaya yang rendah atau bahkan tampa biaya sama
sekali.
Ada pula pesantren yang mengajarkan
pendidikan umum, dimana presentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan
umum (Matematika, IPA, B.Indonesia dll) dari pada ilmu agama islam, ini sering
disebut dengan istilah pondok pesantren modern, dan umumnya tetap menekankan
nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri.
Pada pesantren dengan materi campuran
antara pendidikan formal dan agama islam, para santri belajar seperti disekolh
umum atau madrasah. Pesantren cmpuran untuk SMP kadang-kadang juga dikenal
dengan nama Madrasa Tsanawiyah, sedangkan untuk tingkat SMA dengan nama
Madrasah Aliyah.
Namun
perbedaan pesantren dan madrasah terletak pada sistemnya. Pesantren memasukkan
santrinya ke dalam asrama, sementara dalam madrasah tidak. Para santri, pada
umumnya menghabiskan waktu hingga 20 jam sehari dengan penuh kegiatan, dimulai
dari waktu shalat subuh saat pagi hari hingga mereka tidur di waktu malam, dan
kadang ada juga kegiatan keseharian mereka penuh dengan mengaji, mengaji, dan
mengaji. Semisal pada waktu pagi hingga siang,
para santri pergi ke sekolah umum untuk belajar ilmu formal (umum), dan pada
waktu sore mereka menghadiri pengajian dengan kyai atau ustadz mereka, untuk
memperdalam ilmu agama dan al-qur’an.
1.
Pesantren
yang mempertahankan kemurnian identitas aslinya sebagai tempat mendalami ilmu
agama (tafaqquh fil-i-din) bagi para santrinya. Semua materi yang diajarkan di
pesantren ini sepenuhnya bersifat keagamaan yang bersumber dari kitab-kitab
bahasa arab (kitab kuning) yang ditulis para ulama’ pada abad pertengahan.
Pesantren model ini masih banyak kita jumpai hingga sekarang, seperti pondok
pesatren Lirboyo di Kediri Jawa Timur, dan beberapa pondo pesantren di daerah
Sarang kabupaten Rembang, Jawa Tengah dan lain-lain.
2.
Pesantren
yang memasukkan materi-materi umum dalam pengajarannya, namun dengan dengan
kurikulum yang disusun sendiri menurut kebutuhan dan tidak mengikuti kurikulum
yang dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah secara nasional, sehingga ijazah
yang dikeluarkan tidak mendapat pengakuan dari pemerintah sebagai ijazah formal
(umum).
3.
Pesantren
yang menyelenggarakan pendidikan umum di dalamnya, baik berbentuk madrasah
(sekolah umum berciri khas islam di dalam naungan DEPAG) maupun sekolah
(sekolah umum dibawah DEPDIKNAS) dalam berbagai jenjangnya, bahkan ada yang
sampai Perguruan Tinggi (Universitas) yang tidak hanya meliputi
fakultas-fakultas keagamaan melainkan juga fakultas-fakultas umum. Seperti
pondok pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur.
4.
Pesantren
yang merupakan asrama, dimana para santrinya belajar di sekolah-sekolah atau
perguruan-perguruan tinggi diluarnya. Pendidikan agama di pesantren model ini
diberikan diluar jam-jam sekolah
sehingga bisa diikuti oleh semua santrinya, diperkirakan pesantren model inilah
yang terbanyak jumlahnya.
Padahal
pesantren memiliki peran penting dalam kehidupan di dunia, tetapi para kaum non
agamis menentang itu semua. Sajarah mengatakan semua teknologi di dunia pada
awalnya ditemukan oleh orang-orang yang beragama islam. Dahulu pernah terjadi
peperangan yang sangat hebat antara orang-orang Islam dan orang-orang Quraisy
yang mana orang-orang Islam mengalami kekalahan, akhirnya semua catatan, buku,
kitab, dsb dirampas oleh orang-orang Quraisy. Kemudian kaum Quraisy mempelajari
catatan-catatan tersebut, setelah semua telah dibaca dan dipelajari kemudian
mereka membakarnya, tetapi tak memungkinkan untuk dibakar, dikarenakan saking
banyaknya catatan tersebut, dan akhirnya mereka membuangnya ke suangai Nill.
Tetapi
kenapa pada zaman sekarang banyak sekali teroris bermunculan yang mengatas
namakan islam? Mungkin karena mereka tak tahan melihat kelakuan yang buruk dari
bangsa-bangsa yang mempunyai ilmu-ilmu yang begitu hebat, tetapi mereka
mempergunakan ilmu tersebut kedalm hal-hal yang membuat orang-orang semakin
jauh dari ajaran-ajaran agam islam.
Dan
para bangsa asing akhirnya berpendapat bahwa santri merupakan kandidat teroris,
orang yang berkata seperti itu adalah seorang pengecut yang takut jika dirinya kalah, karena dirinya
telah merampas semuanya dari tangan orang-orang islam. Mereka tidak tahu jika
Ibnu Sina adalah seorang penganut agama islam yang merupakan seorang pakar ilmu
kedokteran, bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa Ibnu Sina adalah bapak
ilmu kedokteran. Lalu apa yang harus dilakukan orang-orang islam untuk
mengambil kejayaan zaman terdahulu dari bangsa barat saat ini, itu tergantung
dari kesadaran diri dan rasa loyalitas terhadap agama islam.
*Penulis
adalah
Ketua
IPNU Per.II PK.SMK Islam Kholiliyah bangsri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar